Kenangan manis berlalu sudah, penulis dan narasumber bersama Bapak Sutadi Sukarya yang berkeinginan untuk membuat buku Palagan Cirebon yang telah tertunda hampir kurang lebih 7 tahun. Sementara rekan-rekan seperjuangannya telah banyak yang wafat. Buku ini bagaikan sebuah amanat perjuangan dari rekan-rekan almarhum guna dijadikan tonggak sejarah perjuangan anak-anak muda dari Karesidenan Cirebon yang mengusung kemerdekaan republik Indonesia pada tahun 1945-1949.
Betapa mengharukan mendengarkan kisah Sutadi Sukarya tatkala mengalami penderitaan di BUI Lama (Rutan kelas 1 Cirebon) pada masa itu. Masuk di dalam sebuah ruang sempit yang disebut selti selama 3 hari dan makan dari piring kaleng, minum dari kaleng bekas susu. Bahkan sinar matahari pun hanya ditemui pada pagi hari tatkala mandi di sumur depan selti tersebut. Sebelum peristiwa ini, Sutadi Sukarya pernah menginap satu malam di BIVO (Brigade Inligchtingen en Verligheids Officier) karena diduga sebagai ekstrimis dan mengalami perlakuan keras dari petugas tentara Belanda.
Namun Sutadi Sukarya merasa berterima kasih dapat turut serta memperjuangkan kemerdekaan, karena dari sinilah segala tujuan mengawal kemerdekaan tercapai berkat keinginannya untuk belajar tentang ilmu perpajakan ke negeri Belanda, negara tempat asal hukum yang berlaku di Indonesia yang masih menggunakan Wetbook (peraturan dan perundangan hukum dari negeri Belanda). Walaupun negara Belanda menjajah Indonesia pada masa itu, namun penghargaan kepada kaum intelektual Indonesia yang bersedia belajar di negeri Belanda disetarakan.
Semenjak saat menempuh pendidikan di negeri Belanda, Sutadi Sukarya mulai mengubah cara berpikir dan sudut pandang terhadap sikap kolonialisme Belanda. Ratu Juliana pada masa kecilnya sering membaca buku Insulinde, de gordel van smaragd, yaitu tentang pulau-pulau sepanjang khatulistiwa yang bagaikan untaian permata zamrud, dan itulah Indonesia. Layak kiranya jika Indonesia ingin mempertahankan kemerdekaan negaranya. Keramahtamahan rakyat Indonesia dalam menyambut Ratu Juliana membuatnya menjadi terkesan. Kenangan indah ini dibawa oleh Ratu Juliana ke negeri Belanda, maka terjadi perubahan sudut pandang antara Indonesia dan Belanda. Dan Ratu Juliana sepulang dari Indonesia mengatakan wonderful Indonesia!
Sebuah kenangan manis yang disampaikannya, betapa perselisihan di antara dua bangsa yang berabad-abad lamanya dapat terselesaikan berkat perjuangan anak bangsa. Banyak peristiwa yang terjadi semasa perjuangan yang dijadikan landasan utama dalam penulisan buku, karena dari buku inilah diharapkan adanya keberlangsungan peristiwa bersejarah dari masa lampau hingga masa yang akan datang, sebagaimana yang selalu diucapkan oleh Presiden Soekarno tentang Jasmerah (Jangan melupakan sejarah). Selain itu Bung Karno pernah berkata: “Berikan padaku sepuluh pemuda, maka gunung pun dapat aku pindahkan”.
Sebuah penekanan kata yang diucapkan oleh Sutadi Sukarya pada saat memotivasi kami untuk menuliskan buku Palagan Cirebon yang memiliki data dari catatan harian rekan-rekannya terkumpul semuanya menjadi satu koper. Inilah sebabnya buku ini tak dapat terbit hingga jangka waktu lama, karena harus menyisir lembar-lembar tulisan yang telah menguning. Kini terwujud sudah angan-angan dan cita-cita the last student army dari batalyon 400. Namun Tuhan menetapkan jalan yang lain bagi beliau yang harus menghadap ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa pada saat buku ini sedang akan diluncurkan. Terima kasih Bapak Sutadi Sukarya atas segala motivasi dan dorongan moral setiap saat kepada kami selaku putra-putri pewaris bangsa ini.